SELAMAT DATANG DI BLOG INI. . . BERI MAKAN IKANNYA DENGAN MENG-KLIK PADA KOLAM !!
Ada kesalahan di dalam gadget ini

Kamis, 19 Juni 2014

Terapi Modalitas



TERAPI MODALITAS
  • Adalah berbagai pendekatan penanganan klien gangguan jiwa yang bervariasi, yang bertujuan untuk mengubah perilaku klien dengan gangguan jiwa denga perilaku mal adaptifnya menjadi perilaku yang adaptif
Terapi Modalitas  ( Perko & Kreigh, 1988)
  • Suatu tehnik terapi dengan menggunakan pendekatan secara spesifik
  • Suatu sistem terapi psikis yang keberhasilannya sangat tergantung pada adanya komunikasi atau perilaku timbal balik antara pasien  dan terapis
  • Terapi yang diberikan dalam upaya mengubah perilaku mal adaptif menjadi perilaku adaptif
PRINSIP PELAKSANAAN
  • Perawat sebagai terapis  mendasarkan potensi yang dimiliki pasien sebagai titik tolak terapi atau penyembuhan
DASAR PEMBERIAN TERAPI MODALITAS   ( Azas Psikodinamika dan Psikososial )
  • Gangguan jiwa tidak merusak seluruh kepribadian atau perilaku manusia
  • Tingkah laku manusia selalu dapat diarahkan dan dibina ke arah kondisi yang mengandung reaksi( respon yang baru )
  • Tingkah laku manusia selalu mengindahkan ada atau tidak adanya faktor-faktor yang sifatnya menimbulkan tekanan sosial pada individu sehingga reaksi indv tersebut dapat diprediksi ( reward dan punishment )
  • Sikap dan tekanan sosial dalam kelompok sangat penting dalam menunjuang dan menghambat perilaku individu dalam kelompok sosial
  • Terapi modalitas adalah proses pemulihan fungsi fisik mental emosional dan sosial ke arah keutuhan pribadi yang dilakukan secara holistik
JENIS TERAPI MODALITAS
Terapi individual
 Terapi lingkungan ( milleau terapi )
Terapi Biologi atau terapi somati
Terapi kognitif
Terapi keluarga
Terapi kelompok
Terapi Perilaku
Terapi bermain
TERAPI INDIVIDUAL
1.       Hubungan terstruktur yang dijalin antara perawat – klien uutuk merubah klien
2.       Untuk mengembangkan pendekatan unik penyelesaian konflik, meredakan penderitaan emosional, mengembangkan cara yang cocok untuk memenuhi kebutuhan
3.       Melalui 3 fase yang overlap ( oerientasi, kerja dan terminasi )

TERAPI LINGKUNGAN
1.       Perawat menggunakan semua lingkungan rumah sakit dalam arti terapeutik
2.       Perawat memberi kesempatan tumbuh dan berubah perilaku dengan memfokuskan pada nilai terapeutik dalam aktivitas dan interaksi
3.       Memberi kesempatan dukungan, pengertian, berkembang sebagai pribadi yang bertanggung jawab .
4.       Klien dipaparkan pada peraturan, harapan, tekanan peer, dan interaksi sosial.
5.       Perawat mendorong komunikasi dan pembuatan keputusan, meningkatkan harga diri, belajar ketrampilan dan perilaku baru.
6.       Tujuan : memampukan klien dapat hidup di luar lembaga yang diciptakan melalui belajar kompetensi yang diperlukan untuk beralih dari rumah sakit ke komunitas

TERAPI BIOLOGIS
1.       Didasarkan pada model medikal : memandang gangguan jiwa sebagai penyakit
2.       Tekanan: pengkajian spesifikbdan pengelompokan gejala dalam sindroma spesifik.
3.       Perilaku abnormal akibat penyakit atau organisme tertentu dan akibat perubahan ttt
4.       Jenisnya: medikasi psikoaktif, intervensi nutrisi, fototerapi, ECT, bedah otak

TERAPI KOGNITIF
1.       Strategi memodifikasi keyakinan dan sikap yang mempengaruhi perasaan dan perilaku klien
2.       Proses : membantu mempertimbangkan stressor dan mengidentifikasi pola pikir dan keyakinan yang tidak akurat
3.       Fokus asuhan : reevaluasi ide, nilai, harapan dan memulai menyusun perubahan kognitif
Tujuan Terapi Kognitif
n             Mengembangkan pola pikir yang rasional
n             Menggunakan pengetesan realita
n             Membantu perilaku dengan pesan internal
Intervensi :
n             Mengajar substitusi pikiran
n             Penyelesaian masalah
n             Memodifikasi percakapan diri negatif

Pelaksanaan terapi kognitif
Mengajarkan untuk mensudtitusikan pikiran pasien, belajar menyelesaikan masalah dan memodifikasi percakapan diri negatif

TERAPI KELUARGA
1.       Seluruh keluarga disertakan sebagai unit penanganan
2.       Semua masalah keluarga diidentifikasi dan kontribusi dari masing-masing anggota terhadap masalah yang dialami
3.       Terdiri 3 fase : Fase 1 ( perjanjian ), fase 2 ( kerja ) dan fase 3 ( terminasi )
4.       Tujuan : meningkatkan fungsi keluarga

Pelaksanaan terapi keluarga
n          Keluarga diharapkan dapat mempertahankan perawatan yang berkesinambungan
Pelaksanaan psiko edukasi anggota keluarga
n        Terapis berusaha merubah pola interaksi diantara anggota keluarga
Pelaksanaan terapi keluarga
n        Keluarga dipersiapkan juga untuk memberikan perawatan pasien selama di rumah

TERAPI KELOMPOK
1.       Perawat berinteraksi dengan sekelompok klien secara teratur
2.       Tujuan : meningkatkan kesadaran diri, meningkatkan hubungan interpersonal, merubah perilaku maladaptif
3.       Ada 3 tahap : tahap pemulaan, fase kerja dan tahap terminasi

TERAPI PERILAKU
n  Premis : perilaku dipelajari, perilaku sehat dapat dipelajari dan disubsitusi dari perilaku tidak sehat
n  Tehnik dasar terapi perilaku :
1.       Role model
2.       Kondisioning operan
3.       Disensitiasi sistematis
4.       Pengendalian diri
5.       Terapi aversi ( reflek kondisi
Pelaksanaan
 Mengajari pasien cara makan yang baik dan benar
Memberikan penghargaan kepada pasien terhadap perilaku positif yang telah dilakukan pasien 
 Pasien mempelajari melalui praktik dan meniru perilaku adaptif 
TERAPI BERMAIN
  •  Premis : anak-anak akan berkomunikasi dengan baik melalui permainan dari pada dengan kemampuan verbal
  • Perawat dapat mengkaji tingkat perkembangan, status emosional, hipotesa diagnostik, intervensi terapeutik
  • Terapis membina hubungan yang hangat
  •  Merefleksikan perasaan anak
  •  Mempercayai anak dapat menyelesaikan masalah
  •  Interpretasi perilaku anak
  •  Indikasi : anak depresi, anak cemas, anak abuse, dewasa dengan stres pasca trauma.

Rabu, 18 Juni 2014

Komunikasi terarapeutik pasien HDR




A.    Strategi tindakan Pelaksanaan
SP 1 Klien: Mendiskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki klien, membantu klien menilai kemampuan yang masih dapat digunakan, membantu klien memilih/menetapkan kemampuan yang akan dilatih, melatih kemampuan yang sudah dipilih dan menyusun jadwal pelaksanaan kemampuan yang telah dilatih dalam rencana harian
ORIENTASI :
“Selamat pagi, Perkenalkan nama saya  Agung, biasa dipanggil Agung, saya mahasiswa keperawattan  Poltekes, yang sedang  praktik diruangan ini.,  Bagaimana keadaan   ibu  hari ini ? 
”Bagaimana, kalau kita bercakap-cakap tentang kemampuan dan kegiatan yang pernah   ibu lakukan? Setelah itu kita akan nilai kegiatan mana yang masih dapat   ibu dilakukan. Setelah kita nilai, kita akan pilih satu kegiatan untuk kita latih”
”Dimana kita duduk ? Bagaimana kalau di ruang tamu ? Berapa lama ? Bagaimana kalau 20 menit ?
KERJA :
Ibu, apa saja kemampuan yang  ibu miliki? Bagus, apa lagi? Saya buat daftarnya ya! Apa pula kegiatan rumah tangga yang biasa  ibu lakukan? Bagaimana dengan merapihkan kamar? Menyapu ?  “ Wah, bagus sekali ada lima kemampuan dan kegiatan yang   ibu miliki “.
   ibu dari lima kegiatan/kemampuan ini, yang mana yang masih dapat dikerjakan di rumah sakit ? Coba kita lihat, yang pertama bisakah, yang kedua.......sampai 5 (misalnya ada 3 yang masih bisa dilakukan). Bagus sekali ada 3 kegiatan yang masih bisa dikerjakan di rumah sakit ini. 
”Sekarang, coba   ibu pilih satu kegiatan  yang masih bisa dikerjakan di rumah sakit ini”.” O yang nomor satu, merapihkan tempat tidur?Kalau begitu, bagaimana kalau sekarang kita latihan merapikan tempat tidur  ibu”. Mari kita lihat tempat tidur ibu Coba lihat, sudah rapikah tempat tidurnya?”
“Nah kalau kita mau merapikan tempat tidur, mari kita pindahkan dulu bantal dan selimutnya. Bagus ! Sekarang kita angkat spreinya, dan kasurnya kita balik.  ”Nah, sekarang kita pasang lagi spreinya, kita mulai dari arah atas, ya bagus !. Sekarang sebelah kaki, tarik dan masukkan, lalu sebelah pinggir masukkan. Sekarang ambil bantal, rapihkan, dan letakkan di sebelah atas/kepala. Mari kita lipat selimut, nah letakkan sebelah bawah/kaki. Bagus !”
ibu sudah bisa merapihkan tempat tidur dengan baik sekali. Coba perhatikan bedakah dengan sebelum dirapikan? Bagus ”
“ Coba ibu lakukan dan jangan lupa memberi tanda MMM (mandiri) kalau ibu lakukan tanpa disuruh, tulis B (bantuan) jika diingatkan bisa melakukan, dan ibu ibu (tidak) melakukan.
TERMINASI :
“Bagaimana perasaan  ibu setelah kita bercakap-cakap dan latihan merapikan tempat tidur ? Yah, ternyata ibu banyak memiliki kemampuan yang dapat dilakukan di rumah sakit ini. Salah satunya, merapikan tempat tidur, yang sudah  ibu praktekkan dengan baik sekali.  Nah kemampuan ini dapat dilakukan juga di rumah setelah pulang.”
”Sekarang, mari kita masukkan pada jadwal harian.   Ibu  mau berapa kali sehari merapikan tempat tidur? Bagus, dua kali yaitu pagi-pagi jam berapa ? Lalu sehabis istirahat, jam 16.00”
”Besok pagi  kita latihan lagi kemampuan yang kedua. Ibu masih ingat kegiatan apa lagi yang mampu dilakukan di rumah selain merapihkan tempat tidur? Ya bagus, cuci piring.. kalu begitu kita akan latihan mencuci piring besok jam 8 pagi di dapur ruangan ini sehabis makan pagi  Sampai jumpa ya”

terapi Somatik

TERAPI SOMATIK
Pemberian Psikotropika
Pendahuluan
Klien gangguan jiwa mempunyai keunikan yang tidak didapatkanpada penderita penyakit fisik. Pada penderita penyakit fisik sangat menyadari bahwa dirinya sakit dan membutuhkan pertolongan tenaga kesehatan sedangkan pada penderita klien dengan gangguan jiwa tidak merasa atau menyadari ia sakit. Dengan keunikan ini sering kali perawat kesulitan dalam pemberian obat karena klien menolak apabila disuruh minum obat, tidak mau menelan, mencurigai obat sebagai racun bahkan menyimpan obat sebagai bunuh diri. Rentang waktu pemberian obat yang lama membuat klien ketakutan akan ketergantug obat dan keracunan. Hal ini membuat klien dan keluarga memutuskan pemberian obat tanpa berkonsultasi dengan dokter atau tenaga kesehatan lain terutama bila gejala-gejala gangguan jiwa sudah mulai berkurang. Tindakan putus obat tersebut sering kali merugikan bagi klien karena bila terjadi kekambuhan akan memerlikan dosis obat yang lebih besar.

Peranan Perawat Dalam Pemberian Obat
Dalam melaksanakan perannya perawat harus mempunyai pengetahuan yang memadai dalam upaya memberikan asuhan keperawatan yang berkualitas. Pengetahuan tentang farmokologi yang harus diketahui perawat antara lain tentang dosis, reaksi obat, efek obat, efek samping obat, cara pemberian obat, interaksi obat degan bahan lain serta perilaku dan persepsi klien dalam menerima terapi obat.
    Ada empat peran perawat dalam pemberian obat yaitu:
Sebagai pelaksana
Perawat berperan langsung dalam pemberian obat, menjaga keefektifan obat dan mengobservasi efek samping dan alergi yang mungkin terjadi.Dalam melaksanakan perannya perawat harus memberi kenyamanan dan rasa aman pada klien dan melindung hak dan kewajiban klien.
Sebagai pengelola
Perawat berperan dalam menyimpan, menyiapkan dan menjamin keamanan obat. Perawat harus tahu tata cara penyimpanan obat yang benar karena penyimpanan yang salah dapat merusak struktur kimia maupun efek obat. Perawat juga harus merawat kadaluwasrsa dan cara pemberian obat.
Sebagai pendidik
Perawat bertanggung jawab dalam mendidik klien keluarga dan masyarakat. Peran ini dapa berupa penyuluhan tentang manfaat obat, efek samping dan cara mengatasi cara reaksi obat yang ditimbulkan, cara pemberian, waktu pemberian dan prinsip 6 benar dalam pemberian obat, pada akhirnya setiap anggota masyarakat bertanggung jawab terhadap kesehatan jiwa.
Sebagai peneliti
Perawat diharapkan mengidentifikasi dan mengobservasi terhadap masalah pengobatan yang terjadi, menerapkan rencana dan metode penelitian erta hasil penelitian untuk meningkatkan mutu pelayanan dan asuhan keperwatan jiwa.
Untuk melaksanakan keempat peran tersebut dengan baik perawat perlu memahami ilmu farmakologi yang meliputi jenis obat, efek terapi dan efek samping, dosis, cara pemberian, indikasi kontraindikasi obat, tindakan antisipasi terhadap efek terapi yang mungkin timbul dan tindakan rujukan bila tidak dapat ditangani dengan tindakan keperawatan.

Jenis Obat
Pembagian obat-obat psikotropika yang sering digunakan dalam pelayanan kesehatan jiwa adalah:
  1. Obat antipsikotik : Anatensol, Clozapil, Largactil, Mellerril, Stelazin, Promactil, Haloperidol
  2. Obat anti depresan : Asendin, Anafranil, Antiprestin, Laroxyl, Ludiomil
  3. Obat anti maniak : Lihtium Karbonat
  4. Obat anti ansietas : Valium, Ativan, Fratium, Lexotan, Buspar, Xanax
  5. Obat anti insomnia: Magadon, Esilgan
  6. Obat anti Parkinson : Artane, Kongentin, Akineton, Kemadrin, Benadryl

Pemberian Obat Pada Klien
Hal-hal yang perlu disiapkan dalam memberikan obat-obatan pada pasien antara lain:
1.    Cek lembar obat, identivikasi jenis obat, cara pemberian dan dosis obat.
2.    Cek kemasan obat, identifikasi tujuan, cara kerja, efek samping dan cara pemberian
3.     Kaji riwayat pengobatan klien, apakah teriadi reaksi yang tidak diinginkan
4.     Kaji pengetahuank lien tentang obat
5.     Kaji kondisi klien sebelum obat diberikan
6.     Cek enam benar pemberian obat (Benar obat, dosis obat, namaklien, cara pemberian, waktu 
        pemberian obat dan benar dokumentasi).

Metode Pendekatan Khusus dalam Fernberian obat

Untuk menjalankan tugas maupun perannya secara baik, perawat jiwa perlu kiat-kiat keperawatan tertentu yang unik dan individual sesuai dengan masalah dengan masalah yang dihadapi.Dalam menangani klien curiga berbeda dengan menangani klien yang kecanduan obat.

Dibawah ini pendekatan-pendekatan yang dapt dilakukan antara lain:
Pendekatan kepada klien curiga
Klien curiga biasanya tidak mudah percaya atas segala sesuatu.Obat seringkali dianggap racun untuk membunuhnya.Keadaan ini membuat perawat sulit memberikan obat pada klien curiga.

Langkah-langkah yang dapat dilakukan perawat:
1. yakinkan klien bahwa obat tersebut bermanfaat untuk kesembuhan klien. Dan bila sembuh klien dapat 
     memenuhi harapan-harapannya, misalkan harapan untuk pulang kerumah, bekerja lagi, bertemu dengan
    orang-orang terdekat.
2. Hindari sikap rgu-ragu, perawat harus konsisten antara respons verbal dan nonverbal. Pertahankan
     kontak mata, bersikap jujur sehingga klien mempercayai perawat.
3. Berkomunikasi jelas dan singkat.
4. Berikan obat dalam kemasan yang sama setiap kali pemberian, jika ada perubahan tentang kemasasn
    harus beritahu pada klien.
5. Yakinkan obat benar-benar diminum klien dengan cara setelah obat dimasukkan kemulut kemudian ajak
     klien untuk bicara. Periksa kamar atau bawah kasur klien apakah obat disembunyikan dengan seizin
     klien.
6. Cari alternative lain jika segala upaya gagal misalnya mencari rujukan ke dokter untuk merubah jenis atau
     cara pemberian obat.

Pendekatan pada klien bunuh diri
Pada klien dengan perilaku bunuh diri sering kali menolak menolak minum obat karena ia merasa hidupnya sudah tidak ada gunanya atau sebaliknya ia pura-pura taat dalam pengobatan namun obat tidak diminum tetapi disimpan dan dikumpulkan secara banyak baru diminum untuk melakukan bunuh diri.

Untuk mencegah hal tersebut perlu dilakukan tindakan:
1. Lakukan pengawasan secara ketat, termasuk kemungkinan penyimpanan obat.
2. Beri perhatian dan dukungan agar klien semangat hidup.
3. Tingkatkan harga diri klien.
4. Kerahkan dukungan sosial yang dimiliki klien.

Pendekatan kepada klien ketergantungan zat
Perawat harus menjelaskan bahwa obat bukan segala-galanya untuk mengatasi masalah dan  jelaskan juga bahwa masing-masing obat memiliki efek merugikan jika dikonsumsi tidak sesuai aturan.

Pendidikan Kesehatan
Rentang pengobatan gangguan jiwa yang harus rutin dan terus menerus dapat menyebabkan klien dan keluarga takut mengalami ketergantungan.Untuk mencegah hal tersebut perawat pememberikan penyuluhan kesehatan pada klien dan keluarga.
Pendidikan kesehatan tersebut meliputi:
1. Tujuan pemberian obat
2. Proses pengobatan
3. Pentingnya pengobatan rutin dan terus menerus
4. Jenis obat, efek samping, dosis, dan waktu pemberian

Pengelolaan Obat di Ruangan
Dalam pengelolaan obat, perawat perlu memperhatikan :
  1. Obat disimpan di lemari terkunci
  2. Kunci obat tidak boleh diletakkan sembarang
  3. Lemari obat diletakkan di ruang jaga perawat
  4. Obat disimpan dikemasannya atau di tempat yang telah diberi lebel dan masing-masing klien mempunyai tempat tersendiri
  5. Setiap penggantian dinas atau shif melakukan serah terima tangan keluar masuk obat.

Terappi somatik
Terapi somatik adalah terapi yang diberikan kepada klien dengan tujuan merubah perilaku yang maladaptif menjadi perilaku yang adaptif dalam melakukan tindakan dalam bentuk perlakuan fisik.  Tapi somatik telah banyak dilakukan kepada klien dengan gangguan jiwa. Pada bagian ini membahas terapi somatik restrain, seklusi, elektrokunvulsi dan foto terapi.

Restrain
Restrain adalah terapi yang menggunakan alat-alat mekanik atau manual untuk membatasi mobilitas fisik klien. Alat tersebut meliputi penggunaan mantest untuk pergelangan tangan atau kaki dan kain pengikat. Restrain harus dilakukan pada kondisi khusus, hal ini merupakan intervensi yang terakhir jika perilaku klien sudah tidak dapat di atasi atau dikontrol dengan strategi perilaku maupun modifikasi lingkungan. Indikasi restirain yaitu :
  1. Perilaku kekerasan yang membahayakan diri sendiri dan lingkungannya
  2. Perilaku agitasi yang tidak dapat diatasi obat-obatan
  3. Klien yang mengalami gangguan kesadaran
  4. Klien yang membutuhkan bantuan untuk mendapatkan rasa aman dan pengendalian diri
  5. Ancaman terhadap integritas tubuh berhubungan dengan penolakan klien untuk istirahat, makan dan minum.
Prinsip intervensi restrain ini melindungi klien dari cidera fisik dan memberikan lingkungan yang nyaman. Restrain dapat membuat klien merasa tidak dihargai hak asasinya sebagai manusia, untuk mencegah perasaan tersebut perawat harus mengidentifikasi faktor pencetus apakah sesuai dengan indikasi terapi, dan terapi ini hanya untuk intervensi yang paling akhir apabila intervensi yang lain gagal mengatasi perilaku agitasi klien. Kemungkinan mencederai klien dalam proses restain sangat besar, sehingga perlu disiapkan staf yang cukup dan harus terlati dalam mengendalikan perilaku klien. Perlu juga dibuat perencaan pendekatan denngan klien, penggunaan restain yang amamn, dan lingkungan restain harus bebas dari benda-benda yang berbahaya.

Seklusi
Seklusi adalah bentuk terapi yang mengurung klien dalam ruangan khusus. Klien tidak dapat meninggalkan ruangan tersebut secara bebas. Bentuk siklusi dapat berupa pengurungan diruangan tidak terkunci sampai pengurungan dalam ruangan yang terkunci dengan kasur tanpa seprei, terganting dari tingkat kegawatan klien.
Indikasi seklusi yaitu dengan perilaku kekerasan yang membahayakan diri sendiri, orang lain dan lingkungan. Kontra indikasi dari terapi ini antara lain :
  1. Resiko tinggi bunuh diri
  2. Klien dengan gangguan sosial
  3. Kebutuhan untuk observasi masalah medis
  4. Hukuman
ECT (Electro Convulsif Therapie)
ETC adalah suatu tidakan terapi dengan menggunakan aliran listrik dan menimbulkan kejang pada penderita baik tonik maupun klonik. Tindakan ini adalah bentuk terapi pada klien dengan mengalirkan arus listrik melalui elektroda yang ditempelkan pada plipis klien untuk membangkitkan kejang grandmall. Indikasi terapikejang listrik adalah klien depresi pada psikosa manik depresi, klien schizophrenia stupor katatonik dan gaduh gelisa katatonik. ETC lebih efektif dari anti deresan untuk klien depresi dengan gejala psikotik (waham, paranoid dan gejala vegetatif), berikan antidepresan saja (imipramin 200-300 mb/hari selama 4 minggu) namun jika tidak ada perbaikan perlu diperhitugkan tindakan ETC, terutama jika litium karbonat tidak berhasil. Pada klien depresi memerlukan waktu 6-12 kali terapi untuk mencapai perbaikan, sedangkan pada mania dan katatonik membutuhkan waktu lebih lama yaitu antara 10-12 kali terapi secara rutin. Terapi ini dilakukan dengan frekuensi 2-3 hari sekali. Jika efektif, perubahan perilaku mulai kelihatan setelah 2-6 terapi.

Indikasi
ETC merupakan prosedur yang hanya digunakan pada keadaan yang direkomendasikan. Tabel menunjukkan indikasi dan kontra indikasi terapi ETC.
Tabel indikasi dan kontra indikai terapi ETC
Kontra ndikasi :
  1. Peningkatan tekanan intra kranial (karena tumor otak, infeksi SSP)
  2. Keguguran pada kehamilan. Gangguan sistem muskuloskaletal, osteoartitis berat, osteoporosis, fraktur karen kejang grandmall.
  3. Gangguan kardivaskuler, infrak miokardium, agina, hipertensi, aritmia, dan aneurisma
  4. Gangguan sistem pernapasan, asma bronkial
  5. Keadaan lemah

Komplikasi :
  1. Lukasio dan dislokasi sendi
  2. Fraktur vetebra
  3. Robekan otot rahang
  4. Apneo
  5. Sakit kepala, mual dan nyeri otot
  6. Amnesia
  7. Bingung, agresif, distruktif
  8. Demensia

Peran perawat
Perawat sebelum melakukan terapi ETC, harus mempersiapkan alat dan mengantipasi kecemasan klien dengan menjelaskan tindakan yang akan dilakukan.

Pesiapan Alat
  1. Konvulsator set (diatur intensitas dan timer)
  2. Touge spatel/karet mentah dibungkus kain
  3. Spuit disposibel
  4. Kain kasa
  5. Cairan nacl secukupnya
  6. Obat SA injeksi 1 ampul
  7. Tensimeter
  8. Stetoskop
  9. Slim suiger
  10. Test konvultator
Persiapan klien
  1. Anjurkan pasien dan kluarga untuk tenang dan beritau prosedur tindakan yang akan diambil
  2. Lakukan pemeriksaan fisik dan laboratoruim untuk mengidentifikasi adanya kelainan yang merupakan kontraindikasi ETC
  3. Siapkan surat persetujuan tindakan
  4. Klien dipusa 4-6 jam sebelum ETC
  5. Lepas gigi palsu, lensa kontak, perhiasan atau penjepit rambut yang mungkin dipakai klien
  6. Klien diminta untuk mengosongkan kandung kemih dan defeksi
  7. Klien jika ada tanda ansietas, berikan 5 mg diazepam IM 1-2 jam sebelum ETC
  8. Jika klien menggunakan obat antidepresan, antipsikotik, sedatifhipnotik, dan antikonvulsa harus dihentikan sehari sebelumnya. Litium biasanya dihentikan bebrapa hari sebelunya karena berisiko organik.
  9. Premedikasi dengan injeksi SA (sulfatatropine) 0,6-1,2 mg setengah jam sebelum ETC. pemberian antikolinergik ini mengendalikan aritmia vagal dan menurunkan sekresi gastrointestinal.
  10. Pelaksaan :
  11. Setelah alat sudah disiapkan, pindahkan klien ke tempat dengan permukaan rata dan cukup keras. Posisikan hiperektensi punggung tanpa bantal. Pakaian dikendorkan, seluruh badan ditutup dengan selimut, kecuali bagian kepala.
  12. Berikan natrium moteheksital (40-100 mg IV). Anestetik berbiturat ini dipakai untuk menghasilkan koma ringan
  13. Berikan pelemas otot suksinilkolin atau anectine (30-80 mg IV) untuk menghindari kemungkinan kejang umum
  14. Kepala bagian temporal (pelipis) dibersihkan dengan alkohol untuk tetap elektroda menempel.
  15. Kedua pelipis tempat elektroda menempel dilapisi dengan kasa yang basahi cairan Nacl.
  16. Penderita diminta untuk membuka mulut dan pasang spate/karet yang dibungkus kain dimasukkan dan penderita diminta untuk menggigitnya
  17. Rahang bawah (dagu) di tahan supaya tidak membuka lebar saat kejang dengan dilapisi kain
  18. Persendian (bahu, siku, pinggang dan lutut) ditahan selama kejang dengan mengikuti kejang
  19. Pasang kedua elktroda di pelipis yang sudah dilapisi kain kasa basah kemudian tekan tombol sampai timer berhenti dan dilepas
  20. Menahan gerakan kejang sampai selesai kaejang dangan mengikuti gerakan kejang (menahan tidak boleh terlalu kuat)
  21. Bia berhenti bernapas berikan bantuan napas dengan ransangan menekan diafragma
  22. Bila banyak lendir, dibersihkan dengan slim suiger
  23. Kepala diminggirkan
  24. Observasi sampai penderita sadar
  25. Dokumentasi hasil dikartu ETC dan catatan keperawatan
  26. Setelah ETC :
  27. Observasi dan awasi tanda vital sampai kondisi klien stabil
  28. Jaga keamanan
  29. Bila klien sudah sadar bantu klien mengembalikan orientasi klien sesuai kebutuhan. Biasanya timbul kebingungan pasca kejang 15-30 menit

Foto terapi
Foto terapi atau sinar adalah terapi somatik pilihn. Terapi ini diberikan dengan memaparkan klien pada sinar terang (5-20 kali lebih terang dari sinar ruangan). Klien disuruh duduk dengan mata terbuka 1,5 meter, didepan klien diletakkan lampu flouresen spektrum luas setinggi mata. Waktu dan dosisi terapi ini bervariasi pada tiap individu. Bebrapa klien berespons jika terapi diberikan pagi hari, sementara klien lain lebih bereaksi kalau dilakukan terapi pada waktu sore hari. Semakin sinar terang semakin efektif terapi perunit waktu.
Terapi sinar berlangsung dalam waktu yang tidak lama namun cepat menimbulka efek terapi. Kebanyakan klien merasa sembuh setelah 3-5 hari tetapi klien dapat kembali kabuh jika terapi dihentikan. Terapi ini dapat menurunkan 75% gejala depresi yang dialami klien depresi musim dingin atau gangguan efektif musiman.
Efek samping yang terjadi setelah dilakukan terapi dapat berupa nyeri kepala, insonia, kelelahan, mual, mata kuning, keluar sekresi dari hidung atau sinus dan rasa lemah pada mata.

Terapi derivat tidur
Terapi derivat tidur adalah terapi yang diberikan kepada klien dengan cara mengurangi jumlah waktu tidur klien. Terapi ini sangat tepat diberikan pada klien depresi. Dari hasil penelitian ditemukan 60% klien depresi mengalami perbaikan setelah jam tidur dikurangi selama 1 malam. Namun banyak klien yang mengalami
depresi kemabali ketika klien tidur selama kurang lebih 2 jam pada malam hari.

Terapi aktivitas kelompok
Kelompok adalah kelompok individu yang mempunyai hubungan satu dengan yang lainnya, saling ketergantungan mempunyai norma yang sama (stuart & larai, 2001). Anggota kelompok mungkin datang dari berbagai latar belakang yang harus ditangani sesuai keadaannya separi agresif, takut, benci, kompetitif, kesamaan, ketidaksamaan, kesukaan dan menarik diri (yaloom, 1995 dalam stuart sundeen dan laraia, 2001). Semua kondisi ini akan mempengaruhi dinamika kelompok, dimana anggota kelompok memberi dan menerima unpan balik yang berarti dalam berbagai interaksi yang terjadi dalam kelompok.
Tujuan dari kelompok adalah membantu anggota yang berperilaku destruktif dalam berhubungan dengan orang lain dan merubah perilaku yang maladaptif. Kekuatan kelompok ada pada kontribusi tujuan kelompok, sedangkan fungsi-fungsi kelompok adalah untuk mencapai anggota kelompok berbagi pengalaman dan saling membantu satu sama lain. Jika anggota kelompok berbagi cara mereka menyelesaikan masalah, maka kelompok berfungsi dengan baik. Kelompok merupakan laboratoruim tempat mencoba dan menemukan hubungan interpersonal dan perilaku.
Rowlins, Williams dan Beck (1993) membagi kelompok menjadi tiga yaitu terapi kelompok, kelompok terapeutik, dan terapi aktifitas kelompok. Terapi kelompok adalah metode pengobatan dimana klien ditemui dalam rancangan waktu dengan tenaga yang memenuhi persyaratan. Fokus terapi kelompok adalah menjadi self awareness, peningkatan hubungan interpersonal dengan membuat perubahan atau kegiatan.
 





Tujuan aktivitas kelompok
Adalah suatu upaya untuk mempasilisati psikoterapis terhadap sejumlah klien dalam waktu yang sama untuk memantau dan meningkatkan hubungan interpersonal antara anggota.




Tujuan terapi aktivitas kelompok dibagi mendai tiga yaitu :
Tujuan umum
Meningkatkan kemampuan uji realitas melalui komunikasi dan umpan balik dengan atau orang lain, melakukan sosialisasi, meningkatkan kesadaran terhadap hubungan reaksi emosi dengan tindakan atau perilaku defensif dan meningkatkan motivasi untuk kemajuan fungsi kongnitif dan efektif.
Tujuan khusus
Meningkatkan identitas diri, menyalurkan emosi secara konstruktif, meningkatkan keterampilan hungunan interpersonal dan sosial
Tujuan rehabilitasi
Meningkatkan keterampilan ekspresi diri, sosial, meningkatkan kepertcayaan diri, empati, meningkatkan pengetahuan dan kemampuan pemecahan.
Karakteristik pasien
Berdasarkan pengamatan dan kajian status klien maka karakteristik klien yang akan dilibatkan dalam terapi aktifitas kelompok ini adalah klien dengan masalah keperawatan seperti resiko mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan, perilaku kekerasan, defiti perawatan diri, isolasi sosial : menarik diri, dan perubahan persepsi sensori







Model terapi aktivitas kelompok
Focal conflic model
Dikembangkan berdasarkan konflik yang tidak disadari dan befokus pada kelompok individu. Tugas leader adalah membantu kelompok memahami konflik dan membantu penyelsaian masalah. Misalnya : adanya perbedaan pendapat antar anggota, bagaimana masalah ditanggapi anggota dan leader mengarahkan alternatif penyelesaian masalah

Model komunikasi
Dikembangkan berdasarkan teori dan prinsip komunikasi, bahwa tidak efektifnya komunikasi akan  membawa kelompok menjadi tidak puas. Tujuan membantu meningkatkan keterampilan interpersonal dan sosial anggota kelompok. Tugas leader adalah memfasilitasi komunikasi yang efektif antar anggota dan mengajarkan pada kelompok bahwa perlu adanyan komunikasi dalam kelompok, anggota bertanggung jawab terhadap apa yang diucapkan komunikasi pada semua jenis : verbal, nonverbal, terbuka dan tertutup, serta pesan yang disampaikan harus dipahami orang lain.

Model interpersonal
Tingka laku (pikiran, perilaku, dan tindakan) digambarkan melalui hubungan interpersonal dalam kelompok. Pada model ini juga menggambarkan sebab akibat tingkah laku anggota, merupakan akibat dari tingkah laku anggota lain. Terapis bekerja dengan individu dan kelompok, anggota belajar dari interaksi antar anggota dan terapist. Mulai proses ini, tingkah laku atau kesalahan dapat dikoreksi dan dipelajari
Model psikondrama
Dengan model ini dapat memotivasi anggota kelompok untuk berakting sesuai dengan peristiwa yang beru terjadi atau peristiwa yang lalu, sesuai peran yang diperankan. Anggota diharapkan dapat memainkan peran sesuai peristiwa yang pernah dialami.
Fokus terapi aktifitas kelompok
Orientasi realitas
Adalah perbaikan terapi aktivitas kelompok yang mengalami gangguan orientasi terhadap orang, waktuu dan tempat,. Tujuan adalah klien mampu mengidentifikasi stimulus imnternal (pikiran, perasaan dan sensasi somatik) dan stimulus eksternal (iklim, bunyi dan situasi alam sekita), klien dapat membedakan antara lamunan dan kenyataan, pembicaraan klien sesuai realitas, klien mampu mengenal diri sendir dan klien mampu mengenal orang lain, waktu da tempat. Karakteristik klien : gangguan orientasi realita (GOR), halusianasi, waham, ilusi dan depersonalisasi yang sudah dapat berinteraksi dengan orang lain, klien kooperatif, dapat berkomunikasi verbal dengan baik, dan kondisi fisik dalam keadaan sehat.

Sosialisasi
Maksudnya adalah memfasilitasi psikoterapist untuk memantau dan meningkatkan hubungan interpersonal, memberi tanggapan terhadap orang lain, mengekspresikan ide dan tukar persepsi dan menerima stimulus eksternal yang berasal dari lingkungan. Tujuan meningkatkan hubungan interpersonal antara anggota kelompok, berkomunikasi, saling memperhatikan, memberi tanggapan terhadap orang lain, mengekspresikan ide serta menerima stimulus eksternal. Karakteristik klien : kurang beminat atau tidak ada inisiatif untuk mengikuti kegiatan ruangan, sering berada ditempat tidur, menarik diri, kontak sosial kurang, harga diri rendah, gelisah, curiga, takut dan cemas, tidak ada inisiatif memulai pembicaraan, menjawab seperlunya, jawaban sesuai pertanyaan, dan dapat membina trust, mau berinteraksi dan sehat fisik.

Stimulasi persepsi
Artinya adalah membantu klien yang mengalami kemunduran orientasi, stimulasi persepsi dalam upaya memotivasi proses berfikir dan efektif serta mengurangi perilaku maladaftif. Tujuan meningkatka kemampuan orientasi rialita, memutuskan perhatian, intelektual, mengemukakan pendapat dan menerima pendapat orang lain dan mengemukakan perasaan. Karakteristik klien : gangguan persepsi yang berhubungan dengan nilai-nilai, menarik diri dari realita, inisiatif atau ide-ide yang negatif, kondisi fisik sehat, dapat berkomunikasi verbal, kooperatif dan mengikuti kegiatan

Stimulasi sensori
Maksudnya adalah menstimulasi sensori pada klien yang mengalami kemunduran sensori. Tujuan meningkatkan kemampuan sensori, memutuskan perhatian, kesegaran jasmani dan mengekspresikan perasaan

Penyaluran energi
Maksudnya adalah menyalurkan energi secara konstruktif. Tujuan menyalirkan energi dari destruktif menjadi konstruktif, mengekspresikan perasaan dan meningkatkan hubungan interpersonal.





Tehap-tahap dalam terapi aktivitas kelompok
Menurut yalom mengutip oleh Struat sundeen, 1995 fase-fase dala terapi aktivitas kelompok adalah sebagai berikut :
Pre klompok
Dimulai dengan membuat tujuan, merancanakan, siapa yang menjadi leader, anggota, dimana, kapan kegiatan kelompok tersebut dilaksanakan, proses evaluasi pada anggota dan kelompok, menjelskan sumber-sumber yang diperlukan kelompok seperti peroyek dan jika memungkinkan diperlukan biaya dan keuangan

Fase awal
Pada fase ini terdapat 3 kemungkinan yang akan terjadi yaitu orientasi, konflik dan kebersamaan
Orientasi.
Anggota mulai mengembangkan sistem sosial masing-masing, dan leader mulai menunjukkan rencana terapi dan mengambil kontrak dengan anggota

Konflik.
Merupakan masa sulit dalam kelompok, anggota mulai memikirkan siapa yang berkuasa dalam kelmpok, bagaiman peran anggota, tugas, dan saling ketergantungan yang akan terjadi.

Kebersamaan.
Anggota mulai belajar bekerja sama untuk mengatasi masalah, anggota mulai menemukan siapa dirinya.

Fase kerja
Pada tahap ini kelompok sudah menjadi tim. Perasaan positif dan negatif dikoreksi dengan hubungan saling percaya yang telah dibina, kecemasan menurun, kelompok lebih stabil, dan realiti, mengeksplorasikan lebih jauh sesuai dengan tujuan dan tugas kelompok, serta penyelesaian masalah yang kreatif.

Fase terminasi
Ada dua jenis terminasi (akhir dan sementara). Anggota kelompok mungkin mengalami terminasi premature, tidak sukses atau sukses
Peran Perawat Dalam Terapi Aktivitas Kelompok
Mempersiapkan program terapi aktivitas kelompok
Sebagai leader dan co leader
Sebagai role model, menyusun rencana, mengarahkan kelompok dalam mencapai tujuan, memotivasi anggota, mengatur jalannya kegiatan, menjelaskan aturan kegiatan dan memimpin jalanyya kegiatan

Sebagai fasilitator
Membantu leader memfasilitasi anggota untuk berperan aktif dan membantu leader dalam memotivsi anggota

Sebagai observer
Mengobsevasi setiap respon klien dan mencatatat semua respon yang terjadi dan semua perubahan perilaku klien
Mengatasi masalah yang timbul pada saat pelaksaan